Lilypie - Personal pictureLilypie Kids Birthday tickers
Tampilkan postingan dengan label gold story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gold story. Tampilkan semua postingan

Kamis, 29 April 2010

Hati

... karena yang paling hakiki tidak ada.

Menurut suatu dongeng India kuno, ada seekor tikus yang
selalu tertekan karena takut kepada seekor kucing. Seorang
tukang sihir merasa kasihan kepadanya lalu menqgubahnya
menjadi seekor kucing. Tetapi kemudian ia menjadi takut
kepada anjing. Maka tukang sihir itu mengubahnya menjadi
anjing. Tetapi ia mulai takut kepada harimau. Maka tukang
sihir itu mengubahnya menjadi harimau, yang merasa takut
kepada pemburu. Pada saat itu tukang sihir menyerah. Ia
mengubahnya menjadi seekor tikus lagi dan berkata, "Apa pun
yang saya lakukan tidak akan membantumu karena engkau
mempunyai hati seekor tikus."

(DOA SANG KATAK 2, Anthony de Mello SJ,
Penerbit Kanisius, Cetakan 12, 1990)

Senin, 19 April 2010

1 Jam yang Berarti

Seorang anak yang terlahir dari sebuah keluarga sederhana. Ibunya baru saja dipanggil yang maha kuasa. Anak itu bertanya pada ayahnya "yah, nanti kita bakal ketemu ibu lagi kan di surga?" ayahnya menjawab "yah,, kalo kamu baik di dunia ini, kamu bakal ketemu ibu lagi di surga!" lalu, ayahnya memjawab lagi "tenang aja, emang kenapa kamu tanya kayak gitu?" "iya soalnya ibu guru bilang, manusia pasti berdosa. tidak ada manusia yang sempurna. kata ibu guru, kalau kita kebanyakan dosa bisa gak ada di surga. aku takut kebanyakan dosa yah... kan kalo aku takut tidak bisa ketemu ibu di surga. sambil mengelus kepala anaknya yang tercinta itu, ayahya memjawab " tenang aja. kamu itu anak baik.sekarang kamu bantu ayah cari kayu bakar ya.." dia berpikir sebantar dan memutus kan untuk di rumah, untuk masak. "yah, aku di rumah aja, aku yang masak gantiin ibu"
sepulang ayahnya. ia bertanya "yah,, kalo seseorang pasti berdosa di hidupnya, tapi, mungkin gak setengah dari hidup orang tidak berdosa?" ayahnya sudah hampir bosan menjawab semua pertanyaan nya itu. denga nada agak malas di berkata "gak mungkin. ya udah deh, kamu terusin aja pr mu atau main sama temen". hari demi hari berlalu,, sudah hampir satu minggu dari hari yang penuh pertanyaan. anak itu bertanya lagi "yah, mungkin gak kialo satu tahuuun aja dari hidup seseorang, orang itu tidak berbuat dosa." ayahnya menjawab dengan lembut walaupun agak bosan "tidak sayang ku". dengan penuh penasaran dia masih terus bertanya "kalau 6 bulan manusia tidak berbuat dosa bisa gak yah?" dengan nada penasaran ayahnya menjawab dan bertanya "gak sayang ku, emang kenapa kok dari kemaren kamu nanyaanya kayak gitu?" "Iya yah aku mau memperhatikan setiap jalannya hidupku agar kita tidak berbuat dosa". Ayahnya bingung apa maksudnya perkataan anaknya sendiri. tapi ia hanya mengangguk dan berkata "wah, bagus deh". malamnya anak itu bertanya lagi "yah, mungkin gak 1 bulan manusia tidak berbuat dosa?" "gak mungkin sayang,," jawab ayahnya dengan setengah sadar kerena sudah ngantuk. keesokan harinya ia masih belum berhenti bertanya tantang hal yang sama "yah,, mungkin gak satu minggu manusia tidak berbuat dosa?" ayahnya menjawab hmmm... kayaknya enggak deh" lalu anak itu bertanya lagi "kalau 1 hari manusia tidak berbuat dosa mungkin gak yah?" dengan sdikit binggung ayahnya menjawab. mungin cuma satu hari, gak tiap hari" anak itu berkata dengan nada memohon " yah,, satu pertanyaan lagi ya, kalau satu jam manusia tidak berbuat dosa mungkin gak?" "lebih mungkin sih daripada satu hari." jawab ayahnya meyakinkan. dengan penuh tekad, anak itu berkata "baiklah kalau memang begitu, mulai dari sekarang aku akan memperhatikan jam per jam di hidup ku sehingga aku akan lebih memperkecil semua kesalahan yang kulakukan di satu jam dalam hidupku!" denagn terharu ayahnya baru mengerti apa yang diucapkan anaknya kemaren. lalu ayahnya memeluk anaknya dengan erat dengan penuh kehangatan dan kasih sayang. sambil sedikit menangis, ia berkata "tenang aja, ayah akan membantumu melakukannya."


-dapetnya kayaknya pernah denger di radio. tapi gak tau dari radio apa. tapi,, sepertinya sudah dirubah oleh Chita Nirmala-

_Thanks_

Jumat, 11 Desember 2009

Pengorbanan Tragis seorang Ibu

Jalannya sudah tertatih-tatih, karena usianya sudah lebih dari 70 tahun, sehingga kalau tidak perlu sekali, jarang ia bisa dan mau keluar rumah. Walaupun ia mempunyai seorang anak perempuan, ia harus tinggal di rumah jompo, karena kehadirannya tidak diinginkan. Masih teringat olehnya, betapa berat penderitaannya ketika akan melahirkan putrinya tersebut. Ayah dari anak tersebut minggat setelah menghamilinya tanpa mau bertanggung jawab atas perbuatannya.

Di samping itu keluarganya menuntut agar ia menggugurkan bayi yang belum dilahirkan, karena keluarganya merasa malu mempunyai seorang putri yang hamil sebelum nikah, tetapi ia tetap mempertahakannya, oleh sebab itu ia diusir dari rumah orang tuanya. Selain aib yang harus di tanggung, ia pun harus bekerja berat di pabrik untuk membiayai hidupnya. Ketika ia melahirkan putrinya, tidak ada seorang pun yang mendampinginya. Ia tidak mendapatkan kecupan manis maupun ucapan selamat dari siapapun juga, yang ia dapatkan hanya cemohan, karena telah melahirkan seorang bayi haram tanpa bapa.

Walaupun demikian ia merasa bahagia sekali atas berkat yang didapatkannya dari Tuhan di mana ia telah dikaruniakan seorang putri. Ia berjanji akan memberikan seluruh kasih sayang yang ia miliki hanya untuk putrinya seorang, oleh sebab itulah putrinya diberi nama Love-Kasih. Siang ia harus bekerja berat di pabrik dan di waktu malam hari ia harus menjahit sampai jauh malam, karena itu merupakan penghasilan tambahan yang ia bisa dapatkan.

Terkadang ia harus menjahit sampai dengan jam dua pagi, tidur lebih dari empat jam sehari itu adalah sesuatu kemewahan yang tidak pernah ia dapatkan. Bahkan Sabtu Minggu pun ia masih bekerja menjadi pelayan restaurant. Ini ia lakukan semua agar ia bisa membiayai kehidupan maupun biaya sekolah putrinya yang tercinta. Ia tidak mau menikah lagi, karena ia masih tetap mengharapkan, bahwa pada suatu saat ayah dari putrinya akan datang balik kembali kepadanya, di samping itu ia tidak mau memberikan ayah tiri kepada putrinya.

Sejak ia melahirkan putrinya ia menjadi seorang vegetarian, karena ia tidak mau membeli daging, itu terlalu mahal baginya, uang untuk daging yang seyogianya ia bisa beli, ia sisihkan untuk putrinya. Untuk dirinya sendiri ia tidak pernah mau membeli pakaian baru, ia selalu menerima dan memakai pakaian bekas pemberian orang, tetapi untuk putrinya yang tercinta, hanya yang terbaik dan terbagus ia berikan, mulai dari pakaian sampai dengan makanan.

Pada suatu saat ia jatuh sakit, demam panas. Cuaca di luaran sangat dingin sekali, karena pada saat itu lagi musim dingin menjelang hari Natal. Ia telah menjanjikan untuk memberikan sepeda sebagai hadiah Natal untuk putrinya, tetapi ternyata uang yang telah dikumpulkannya belum mencukupinya. Ia tidak ingin mengecewakan putrinya, maka dari itu walaupun cuaca di luaran dingin sekali, bahkan dalam keadaan sakit dan lemah, ia tetap memaksakan diri untuk keluar rumah dan bekerja.

Sejak saat tersebut ia kena penyakit rheumatik, sehingga sering sekali badannya terasa sangat nyeri sekali. Ia ingin memanjakan putrinya dan memberikan hanya yang terbaik bagi putrinya walaupun untuk ini ia harus berkorban, jadi dalam keadaan sakit ataupun tidak sakit ia tetap bekerja, selama hidupnya ia tidak pernah absen bekerja demi putrinya yang tercinta.

Karena perjuangan dan pengorbanannya akhirnya putrinya bisa melanjutkan studinya di luar kota. Di sana putrinya jatuh cinta kepada seorang pemuda anak dari seorang konglomerat beken. Putrinya tidak pernah mau mengakui bahwa ia masih mempunyai orang tua. Ia merasa malu bahwa ia ditinggal minggat oleh ayah kandungnya dan ia merasa malu mempunyai seorang ibu yang bekerja hanya sebagai babu pencuci piring di restaurant. Oleh sebab itulah ia mengaku kepada calon suaminya bahwa kedua orang tuanya sudah meninggal dunia.

Pada saat putrinya menikah, ibunya hanya bisa melihat dari jauh dan itupun hanya pada saat upacara pernikahan di gereja saja. Ia tidak diundang, bahkan kehadirannya tidaklah diinginkan. Ia duduk di sudut kursi paling belakang di gereja, sambil mendoakan agar Tuhan selalu melindungi dan memberkati putrinya yang tercinta. Sejak saat itu bertahun-tahun ia tidak mendengar kabar dari putrinya, karena ia dilarang dan tidak boleh menghubungi putrinya. Pada suatu hari ia membaca di koran bahwa putrinya telah melahirkan seorang putera, ia merasa bahagia sekali mendengar berita bahwa ia sekarang telah mempunyai seorang cucu.

Ia sangat mendambakan sekali untuk bisa memeluk dan menggendong cucunya, tetapi ini tidak mungkin, sebab ia tidak boleh menginjak rumah putrinya. Untuk ini ia berdoa tiap hari kepada Tuhan, agar ia bisa mendapatkan kesempatan untuk melihat dan bertemu dengan anak dan cucunya, karena keinginannya sedemikian besarnya untuk bisa melihat putri dan cucunya, ia melamar dengan menggunakan nama palsu untuk menjadi babu di rumah keluarga putrinya. Ia merasa bahagia sekali, karena lamarannya diterima dan diperbolehkan bekerja di sana. Di rumah putrinya ia bisa dan boleh menggendong cucunya, tetapi bukan sebagai Oma dari cucunya melainkan hanya sebagai bibi pembantu dari keluarga tersebut. Ia merasa berterima kasih sekali kepada Tuhan, bahwa ia permohonannya telah dikabulkan.

Di rumah putrinya, ia tidak pernah mendapatkan perlakuan khusus, bahkan binatang peliharaan mereka jauh lebih dikasihi oleh putrinya daripada dirinya sendiri. Di samping itu sering sekali dibentak dan dimaki oleh putri dan anak darah dagingnya sendiri, kalau hal ini terjadi ia hanya bisa berdoa sambil menangis di dalam kamarnya yang kecil di belakang dapur. Ia berdoa agar Tuhan mau mengampuni kesalahan putrinya, ia berdoa agar hukuman tidak dilimpahkan kepada putrinya, ia berdoa agar hukuman itu dilimpahkan saja kepadanya, karena ia sangat menyayangi putrinya.

Setelah bekerja bertahun-tahun sebagai babu tanpa ada orang yang mengetahui siapa dirinya di rumah tersebut, akhirnya ia menderita sakit dan tidak bisa bekerja lagi. Mantunya merasa berhutang budi kepada pelayan tuanya yang setia ini sehingga ia memberikan kesempatan untuk menjalankan sisa hidupnya di rumah jompo. Puluhan tahun ia tidak bisa dan tidak boleh bertemu lagi dengan putri kesayangannya. Uang pension yang ia dapatkan selalu ia sisihkan dan tabung untuk putrinya, dengan pemikiran siapa tahu pada suatu saat ia membutuhkan bantuannya.

Pada tahun lampau beberapa hari sebelum hari Natal, ia jatuh sakit lagi, tetapi ini kali ia merasakan bahwa saatnya sudah tidak lama lagi. Ia merasakan bahwa ajalnya sudah mendekat. Hanya satu keinginan yang ia dambakan sebelum ia meninggal dunia, ialah untuk bisa bertemu dan boleh melihat putrinya sekali lagi. Di samping itu ia ingin memberikan seluruh uang simpanan yang ia telah kumpulkan
selama hidupnya, sebagai hadiah terakhir untuk putrinya.

Suhu di luaran telah mencapai 17 derajat di bawah nol dan salju pun turun dengan lebatnya, jangankan manusia anjing pun pada saat ini tidak mau keluar rumah lagi, karena di luaran sangat dingin, tetapi Nenek tua ini tetap memaksakan diri untuk pergi ke rumah putrinya. Ia ingin bertemu dengan putrinya sekali lagi yang terakhir kali. Dengan tubuh menggigil karena kedinginan, ia menunggu datangnya bus berjam2 di luaran. Ia harus dua kali ganti bus, karena jarak rumah jompo tempat di mana ia tinggal letaknya jauh dari rumah putrinya. Satu perjalanan yang jauh dan tidak mudah bagi seorang nenek tua yang berada dalam keadaan sakit.

Setiba di rumah putrinya dalam keadaan lelah dan kedinginan ia mengetuk rumah putrinya dan ternyata putrinya sendiri yang membukakan pintu rumah gedong di mana putrinya tinggal. Apakah ucapan selamat datang yang diucapkan putrinya? Apakah rasa bahagia bertemu kembali dengan ibunya? Tidak! Bahkan ia ditegor: "Kamu sudah bekerja di rumah kami puluhan tahun sebagai pembantu, apakah kamu tidak tahu bahwa untuk pembantu ada pintu khusus, ialah pintu di belakang rumah!"

"Nak, Ibu datang bukannya untuk bertamu melainkan hanya ingin memberikan hadiah Natal untukmu. Ibu ingin melihat kamu sekali lagi, mungkin yang terakhir kalinya, bolehkah saya masuk sebentar saja, karena di luaran dingin sekali dan sedang turun salju. Ibu sudah tidak kuat lagi nak!" kata wanita tua itu. "Maaf saya tidak ada waktu, di samping itu sebentar lagi kami akan menerima tamu seorang pejabat tinggi, lain kali saja. Dan kalau lain kali mau datang telepon dahulu, jangan sembarangan datang begitu saja!" ucapan putrinya dengan nada kesal. Setelah itu pintu ditutup dengan keras. Ia mengusir ibu kandungnya sendiri, seperti juga mengusir seorang pengemis. Tidak ada rasa kasih, jangankan kasih belas kesian pun tidak ada.

Setelah beberapa saat kemudian bel rumah bunyi lagi, ternyata ada orang mau pinjam telepon di rumah putrinya "Maaf Bu, mengganggu, bolehkah kami pinjam teleponnya sebentar untuk menelpon ke kantor polisi, sebab di halte bus di depan ada seorang nenek meninggal dunia, rupanya ia mati kedinginan!" Wanita tua ini mati bukan hanya kedinginan jasmaniahnya saja, tetapi juga perasaannya. Ia sangat mendambakan sekali kehangatan dari kasih sayang putrinya yang tercinta yang tidak pernah ia dapatkan selama hidupnya.

RENUNGAN:

Seorang Ibu bisa dan mampu memberikan waktunya 24 jam sehari bagi anak-anaknya, tidak ada perkataan siang maupun malam, tidak ada perkataan lelah ataupun tidak mungkin dan ini 366 hari dalam setahun.

Seorang Ibu mendoakan dan mengingat anaknya tiap hari bahkan tiap menit dan ini sepanjang masa. Bukan hanya setahun sekali saja pada hari-hari tertentu. Kenapa kita baru bisa dan mau memberikan bunga maupun hadiah kepada Ibu kita hanya pada waktu hari Ibu saja, sedangkan di hari-hari lainnya tidak pernah mengingatnya, boro-boro memberikan hadiah, untuk menelpon saja kita tidak punya waktu. Kita akan bisa lebih membahagiakan Ibu kita apabila kita mau memberikan sedikit waktu kita untuknya, waktu nilainya ada jauh lebih besar daripada bunga maupun hadiah.

Renungkanlah:
Kapan kita terakhir kali menelpon Ibu?

Kapan kita terakhir mengundang Ibu?

Kapan terakhir kali kita mengajak Ibu jalan2?

Dan kapan terakhir kali kita memberikan kecupan manis dengan ucapan terima kasih kepada Ibu kita?

Dan kapankah kita terakhir kali berdoa untuk Ibu kita?

Berikanlah kasih sayang selama Ibu kita masih hidup,

percuma kita memberikan bunga maupun tangisan

apabila Ibu telah berangkat,

karena Ibu tidak akan bisa melihatnya lagi.

When Mother prayed, she found sweet rest,

When Mother prayed, her soul was blest;

Her heart and mind on God were stayed,

And God was there when Mother prayed!

Our thanks, O God, for mothers

Who show, by word and deed,

Commitment to Thy will and plan

And Thy commandments heed.

A thousand men may build a city,

but it takes a mother to make a home.

Apabila Anda mengasihi Ibunda Anda sebarkanlah tulisan ini kepada rekan-rekan lainnya, agar mereka juga sadar selama Ibunda mereka masih hidup berikanlah bakti kasih Anda kepada Ibunda terkasih sebelumnya terlambat.

Akhirnya Aku Sembuh

"ASYYYIIIIIKKK.... bisa merasakan indahnya dunia lg
setelah sekian lama dunia gelap gulitaaa....
sekarang aku udh sembuh.. aku sudah bisa liaaat indahnya dunia yang indah ini.."

kata seorang anak di sebuah rumah sakit..

saat aku lihat dia tertawa rasanya hatiku senang sekali..
padahal aku tak kenal dengannya..
anak itu menghampiriku dan berkata

"kak.. sekarang aku udh bisa liat lg lhoo.. seneng bgd dh k.." dia tertawa berlari ke semua arah dan menyapa semua org yang ada di situ
awalnya aku sempat berfikir kenapa stlh dya bsa liat dunia jdi gila?
tapi aku sadar anak itu sangat bahagia sekali sudah dpt melihat lg..

"wah k.. dunia kynya indah yh..."

tanyanya..

aku hanya dapat tersenyum.. dia blm tau kalo dunia itu gagg seindah yg dia bayangin..
yang ada di benakku sekarang.. kenapa byk org bilang kalo dunia indah?
aku tak dapat merasakan keindahan duniaa..
yang ada di pikiran ku dunia itu menyebalkan..
selalu membuatku menangis...
sebetulnya aku tahu dunia memang indah..
tapi
mengapa aku blm melihat indah dunia?
apa aku buta?


by : Michelle Putri